0
Masalah Pengembangan Diri (Self Development)by adminon.Masalah Pengembangan Diri (Self Development)Masalah Pengembangan Diri (Self Development) Upaya pengembangan diri dengan menggunakan hipnosis/hipnoterapi telah terbukti berhasil mengubah kehidupan banyak orang dalam berbagai aspek kehidupannya, seperti karier, prestasi, income, hubungan dengan keluarga/orang lain, dll Manusia pada dasarnya dianugrahi kemampuan pikiran yang luar biasa dari Sang Pencipta untuk bisa berkembang dengan baik, mencapai kesuksesan dan kebahagiaan yang ingin diraih. […]

Masalah Pengembangan Diri (Self Development)

Upaya pengembangan diri dengan menggunakan hipnosis/hipnoterapi telah terbukti berhasil mengubah kehidupan banyak orang dalam berbagai aspek kehidupannya, seperti karier, prestasi, income, hubungan dengan keluarga/orang lain, dll

Manusia pada dasarnya dianugrahi kemampuan pikiran yang luar biasa dari Sang Pencipta untuk bisa berkembang dengan baik, mencapai kesuksesan dan kebahagiaan yang ingin diraih. Sayangnya banyak sekali nilai-nilai kepercayaan dalam bawah sadar kita yang membatasi (limiting belief) kemampuan tersebut.Belief tersebut bisa timbul dari sugesti/ide yang kita terima dari eksternal ataupun dari peristiwa-peristiwa traumatis yang pernah kita alami. Ambil contoh analogi berikut:

elephant foot

Ada seekor anak gajah yang salah satu kakinya diikat pada sebuah pasak dari sejak berusia sangat muda. Anak gajah tersebut mencoba melepaskan diri dan selalu gagal karena tali & pasaknya terlalu kuat untuk tenaganya yang masih kecil. Setiap hari kegagalan demi kegagalan ditemuinya sehingga akhirnya ia mulai berhenti berusaha melepaskan diri dan timbul kepercayaan dalam dirinya bahwa ia memang tidak bisa mengalahkan tali & pasak tersebut, dan menerima hal tersebu sebagai nasibnya. Bertahun-tahun kemudian, gajah tersebut menjadi dewasa dan besar, dengan kekuatan yang berkali-kali lipat besarnya namun tetap tidak pernah bisa melepaskan diri dari ikatan tersebut, karena limiting belief yang telah tertanam kuat dalam dirinya dari kecil.

 

Di negara-negara Eropa Timur, pemrograman diri dengan menggunakan hipnosis telah lama diterapkan pada atlet-atlet mereka untuk membantu mereka meraih prestasi yang maksimal. Saya sendiri juga sering menggunakan beberapa teknik hipnoterapi untuk membantu sebuah paduan suara yang saya latih untuk bisa mencapai prestasi puncak di tingkat internasional.

Berikut beberapa kisah terapi kasus pengembangan diri:

Kisah berikut ini tidak bermaksud memberikan jaminan kepastian keberhasilan terapi pada setiap kasus, hasil terapi bisa bervariasi pada setiap orang.  

 

T, seorang manager muda di sebuah perusahaan multinasional yang mengalami kesulitan dalam berbicara di depan publik. Setiap kali ia harus melakukan hal tersebut, ia langsung merasa sangat gugup, lemas, & berkeringat dingin. Padahal di jabatannya sekarang, ia sering kali harus berbicara di depan orang banyak, baik itu teamnya sendiri ataupun pihak luar. T sangat khawatir akan masalahnya tersebut menjadi penghambat kariernya, sehingga akhirnya mencari pertolongan lewat terapi di Klinik Hipnoterapi Keluarga. Pada saat terapi, berhasil ditemukan akar masalah tersebut pada saat T berusia 5 tahun di Taman Kanak-Kanak. T kecil diminta bernyanyi di depan kelas di hadapan guru & teman-temannya, sayangnya pada saat itu T lupa akan syair lagunya sehingga akhirnya menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Itulah saat pertama kali T mengalami masalah untuk tampil di depan orang banyak. Dengan menggunakan teknik Ego State Therapy (EST), T berhasil melepaskan diri dari masalahnya itu dan menjadi semakin percaya diri & tenang untuk tampil berbicara di depan siapapun.

Simak juga kisah R, seorang usahawan yang bermasalah dalam mengembangkan usahanya di artikel “Past Life: ada atau tidak?

Sering kali kasus-kasus pada masalah pengembangan diri disertai dengan adanya sabotase diri (self sabotage) dari satu bagian diri seseorang yang berusaha melindungi dirinya dari sesuatu hal yang dianggap bisa berakibat negatif. Simak kisah berikut ini:

A, seorang single mother berpenampilan menarik di usianya yang masih relatif muda, memiliki masalah dalam membina hubungan dengan lelaki. Setiap usahanya membina hubungan yang serius & sehat dengan pasangan jenis selalu kandas, satu-satunya hubungan perkawinan yang pernah dijalaninya juga berakhir dengan tragis. Ia merasa selalu gagal mendapatkan pasangan yang baik dan sebaliknya malah sering kali ‘berhasil’ menarik pasangan dengan perilaku yang buruk. Proses terapi membantu A hingga menemukan akar masalah keyakinan di bawah sadarnya bahwa semua pria tidak baik dan hanya akan membuat sengsara, yang diperolehnya tanpa sengaja pada saat A masih dalam kandungan ibunya. Peristiwa tersebut telah menciptakan suatu bagian diri dalam diri A yang selalu melakukan sabotase diri setiap kali berusaha menjalin hubungan dengan pria yang baik. Dengan mengubah persepsi tersebut, A berhasil mengubah dirinya menjadi jauh lebih nyaman & tenang dalam membina hubungan dengan pria yang tepat.

 

Author: 

Related Posts

 

Leave a Reply