0
Fobia (Bukan Empat Mata)by adminon.Fobia (Bukan Empat Mata)Fobia (Bukan Empat Mata) Sejak tayangan Bukan Empat Mata di TV Trans7 pada hari Senin, 6 Mei 2013 kemarin, saya mendapat banyak sekali pertanyaan mengenai fobia dan teknik penyembuhan yang saya lakukan pada tayangan tersebut. Banyak yang mengapresiasi tentunya, tapi ada juga yang menyangsikan proses terapi tersebut karena terkesan sangat sederhana dan ‘terlalu singkat’, hanya […]

Fobia (Bukan Empat Mata)

Sejak tayangan Bukan Empat Mata di TV Trans7 pada hari Senin, 6 Mei 2013 kemarin, saya mendapat banyak sekali Phobias1pertanyaan mengenai fobia dan teknik penyembuhan yang saya lakukan pada tayangan tersebut. Banyak yang mengapresiasi tentunya, tapi ada juga yang menyangsikan proses terapi tersebut karena terkesan sangat sederhana dan ‘terlalu singkat’, hanya dalam 10 menit sudah bisa menyembuhkan masalah fobia pada artis Nycta Gina (terkenal sebagai “Jeng Kelin” dalam sebuah acara TV) yang sudah dialaminya bertahun-tahun. Begitulah kebanyakan manusia, kalau terlalu sulit ditinggalkan sebelum selesai tapi kalau terlalu mudah disangsikan keefektifannya , he, he, he….

 

Pada kesempatan ini saya ingin sedikit menceritakan mengenai proses terapi sesungguhnya yang saya lakukan pada acara tersebut. Pada awal saya dihubungi team kreatif Bukan Empat Mata untuk menjadi narasumber pada episode yang membahas mengenai fobia tersebut, mereka sebenarnya merencanakan untuk melakukan terapi pada artis Ivan Gunawan yang, katanya, fobia terhadap ular. Namun sesaat sebelum shooting, setelah bertanya jawab dan menganalisa keadaannya, saya berkesimpulan yang dialami Ivan sebenarnya bukan fobia, namun rasa takut yang masih tergolong normal. Adalah wajar bagi manusia menimbulkan rasa takut pada hewan/benda tertentu yang tergolong berbahaya, seperti ular. Dan itu sebenarnya justru merupakan suatu mekanisme perlindungan yang ditimbulkan pikiran bawah sadar kita untuk menciptakan rasa aman. Sehingga akhirnya rencana diubah dengan kasus Nycta Gina yang fobia kucing. Belakangan rencana tersebut diganti lagi menjadi kasus fobia pocong pada saat shooting berlangsung, tepat beberapa detik sebelum proses terapi dimulai.

Sesaat sebelum shooting dimulai, saya hanya memiliki waktu kurang dari 5 menit untuk berkenalan dan melakukan pendekatan dengan Nycta Gina, yang juga seorang dokter umum, sekaligus penggalian masalah yang dialami. Waktu yang sempit tersebut harus bisa saya manfaatkan untuk menggantikan proses ‘pre-induction talk’ yang biasanya dilakukan dalam suatu proses terapi normal. Walau singkat, proses ini sangat penting untuk menanamkan kepercayaan pada diri klien (dalam hal ini Nycta Gina) terhadap saya, sekaligus meningkatkan tingkat otoritas yang diperlukan dalam melakukan proses terapinya nanti.

Pada saat briefing saya diberi tahu bahwa durasi waktu yang diberikan hanyalah sekitar 10 menit untuk melakukan terapi tersebut dengan lengkap. Mengingat hal tsb saya akhirnya memutuskan untuk menggunakan teknik ICT (Instant Change Technique), yang ditemukan oleh Bpk Ariesandi – AHI. Teknik tersebut sudah cukup sering saya gunakan dalam praktek saya dengan hasil yang sangat baik, terutama pada kasus fobia. Walaupun begitu, tetap saja ada rasa was-was yang cukup kuat terutama karena proses shooting acara Bukan Empat Mata ini dilakukan secara ‘live tapping’, sehingga walaupun tidak disiarkan secara langsung namun proses pengambilan gambar tetap dilakukan seolah-olah siaran langsung dengan hanya sekali kesempatan saja tanpa dilakukan pengulangan. Dan yang lebih menimbulkan tekanan dalam diri saya adalah jaminan keberhasilan, yang walaupun tidak diharuskan oleh pihak TV namun tetap saja akan terasa cukup aneh jika terapi tersebut belum berhasil saat itu juga karena adanya ekspetasi dari seluruh penonton & pemirsa yang pasti mengharapkan langsung berhasil. Dalam konteks terapi yang normal, kasus fobia memang umumnya selalu mendapatkan hasil yang baik, namun tetap saja tidak bisa digeneralisir begitu saja. Ada beberapa kasus fobia tidaklah sesederhana kelihatannya sehingga  bisa membutuhkan 2 sesi atau bahkan lebih.

Pada saat saya tampil pada segmen ke-5, sebagai nara sumber saya banyak menjelaskan mengenai apa itu fobia. Definisi, tipe, klasifikasi, sampai teknik-teknik penyembuhan yang menjadi alternatif dalam suatu sesi terapi. Tentunya tidak semua penjelasan yang disampaikan dalam format tanya jawab tersebut ditayangkan sepenuhnya, ada cukup banyak suntingan editing yang dilakukan sehubungan dengan kepentingan alur acara & durasinya.

Pada saat ‘commercial break’, kembali saya mengulangi beberapa pendekatan terhadap calon klien saya dan memastikan kebersediaannya untuk dibantu melepaskan fobia kucingnya itu.

Bukan4mata

Akhirnya tibalah segmen ke-6 dimana saya akan melakukan terapi secara langsung di depan kamera & penonton studio terhadap Nycta Gina. Dialog & lawakan pembuka pun sudah diluncurkan antara kedua pembawa acara Marcella Lumowa dan Tukul. Pada menit-menit terakhir sebelum kamera beralih ke saya, tiba-tiba ada instruksi dari crew team kreatif yang menuliskan perubahan rencana dari fobia kucing menjadi fobia pocong. Dalam posisi yang terkejut itu, mau tidak mau show harus jalan terus sehingga saya pun harus mengubah semua rencana kalimat-kalimat yang sedianya akan digunakan dalam terapi tersebut. Beruntung dari dialog pada segmen sebelumnya yang sempat saya dengar dari balik panggung, tergambar bahwa fobia pocong yang dialami Nycta Gina tergolong kasus sederhana yang tidak kompleks. Saya memulai proses terapi ini dengan melakukan induksi cepat untuk membawa klien di panggung ini masuk ke dalam relaksasi hipnosis yang cukup dalam untuk melakukan instalasi program ICT pada pikiran bawah sadarnya. Setelah itu proses intervensi terapi pun dilakukan secara sederhana, seperti dalam suatu proses diskusi ataupun konseling. Sebelum melakukannya, saya sempat menanyakan pada Gina mengenai skala perasaan takutnya yang ternyata diakui mencapai 9 (dari skala 10). Setelah melakukan beberapa kalimat uji dalam ICT, Mbak Gina mengakui penurunan rasa tersebut menjadi 4 (adegan ini terkena suntingan sehingga tidak terlihat di tayangan TV). Dan kemudian setelah meneruskan terapi tersebut sampai tuntas, Nycta Gina pun terheran-heran karena bisa melihat & memegang dua buah boneka pocong dengan tenang, tanpa reaksi takut apapun. Sekali lagi teknik ICT ini membuahkan hasil yang luar biasa dalam menerapi suatu masalah emosi dalam waktu yang relatif singkat. Perlu diketahui bahwa, lagi-lagi, proses terapi tersebut tidak ditayangkan secara komplit. Ada beberapa dialog yang, lagi-lagi, terkena suntingan editing dengan alasan tertentu.

Begitupun secara keseluruhan tetap memenuhi target durasi di bawah10 menit dengan hasil yang sangat baik. Kedua boneka pocong (yang sebenarnya di luar skenario juga) tersebut membuktikan hasil dari terapi tersebut.

Artikel ini sengaja saya buat untuk memberikan klarifikasi & gambaran yang lebih jelas tentang terapi tersebut supaya tidak memberikan salah pengertian dan ekspektasi bahwa semua proses terapi fobia hanya memerlukan 10 menit. Seluruh pendekatan yang saya lakukan terhadap Nycta Gina sebenarnya juga merupakan bagian dari rangkaian terapi secara keseluruhan.

Author: 

Related Posts

 

Leave a Reply