0
The (new) Client Centered Therapyby adminon.The (new) Client Centered TherapyKonsep Terapi berbasis klien atau Client-Centered Therapy (CCT) atau seringkali juga disebut Ethical Therapy pertama kali dicetuskan oleh Carl Rogers, seorang psikolog Amerika Serikat, di tahun 1940-an. Seperti namanya, terapi ini berpusat dan berfokus pada klien semata. Konsep ini meyakini bahwa setiap manusia unik dan memiliki jawaban atau solusi terhadap masalahnya dalam dirinya sendiri. Berbeda dengan terapi yang lebih […]

Konsep Terapi berbasis klien atau Client-Centered Therapy (CCT) atau seringkali juga disebut Ethical Therapy pertama kali dicetuskan oleh Carl Rogers, seorang psikolog Amerika Serikat, di tahun 1940-an. Seperti namanya, terapi ini berpusat dan berfokus pada klien semata. Konsep ini meyakini bahwa setiap manusia unik dan memiliki jawaban atau solusi terhadap masalahnya dalam dirinya sendiri. Berbeda dengan terapi yang lebih tradisional (therapist centered), dimana terapis adalah pihak yang utama, yang aktif menganalisa dan mendiagnosa dan kemudian memberikan solusi berdasarkan pengetahuan dan persepsi yang dimiliki. Dalam CCT, fungsi terapis lebih sebagai fasilitator yang mengupayakan suatu keadaan atau atmosfir yang mendukung klien mencari dan menemukan solusi atas masalahnya sendiri. Bagaimanapun, setiap manusia pasti memiliki latar belakang, kepercayaan, nilai-nilai yang diyakini, dan kisah hidup yang berbeda-beda dan tidak ada orang yang lebih mengerti mengenai hal tersebut daripada dirinya sendiri, baik dalam pikiran sadar maupun pikiran bawah sadarnya.

Dalam suatu sesi hipnoterapi, umumnya ada beberapa alternatif teknik terapi yang mungkin dilakukan:
  1. Direct Suggestion atau sugesti secara langsung. Teknik ini lebih bersifat therapist centered dimana si terapis akan memberikan sugesti secara langsung kepada klien dalam keadaan hipnosis untuk mendorong terjadinya perubahan yang diinginkan. Teknik ini yang umumnya digunakan oleh banyak hipnoterapis pada masa lampau.
  2. Berbagai teknik releasing & relearning yang bertujuan untuk membantu klien melepaskan muatan emosi yang mengganggu dan melakukan pembelajaran atau persepsi ulang terhadap suatu keyakinan atau nilai-nilai yang menyebabkan masalahnya. Contoh teknik-teknik ini seperti: Desensitization, Object Projection, Gestalt, dll.
  3. Melakukan hypnoanalisa yang bertujuan untuk membantu klien menemukan akar masalahnya untuk kemudian menetralisirnya. Beberapa teknik yang sering digunakan dalam hypnoanalisa seperti Parts Therapy, Age Regression Therapy, Past Life Regression, dll.
Pada umumnya pelatihan hipnoterapi pada jaman sekarang sudah menekankan pada CCT, terutama dengan menggunakan teknik yang saya jelaskan di no 2 & 3 di atas. Kedua teknik tersebut memang sudah lebih berfokus pada motivasi dan kemampuan pikiran bawah sadar klien untuk menemukan dan menyelesaikan masalahnya sendiri dengan bimbingan sang terapis.
Itu juga yang sering saya gunakan dalam praktek saya, terutama sebelum mengikuti training lanjutan di Center for Hypnotherapy, Oakland – California. Setelah mengikuti pelatihan dengan Marilyn Gordon, seorang hipnoterapis dengan pengalaman 30 tahun, tersebut saya memperoleh konsep yang baru yang lebih advanced lagi dari CCT, yang saya sering sebut sebagai The New Client-Centered Therapy. Marilyn adalah sosok yang sangat menghargai martabat & keunikan setiap manusia, ia meyakini bahwa jawaban yang paling tepat atas masalah seseorang ada di dalam dirinya sendiri dan lebih mudah ditemukan dengan cara yang paling efektif menurut dirinya tersebut.
Perbedaan paling utama terletak pada konsep pemilihan penggunaan teknik yang paling tepat dalam membantu seorang klien. Pada CCT yang umum, walaupun seorang terapis sudah lebih memposisikan dirinya sebagai fasilitator, ia tetap melakukan keputusan untuk memilih menggunakan teknik tertentu sesuai dengan kemampuan dan nilai-nilai keyakinan yang dimilikinya. Sehingga bisa terbentuk semacam ‘buku manual’ yang mendefinisikan teknik apa yang menurutnya (& kebanyakan text book hipnoterapi) paling tepat untuk setiap jenis masalah yang berbeda-beda. Sedangkan pada New CCT, keputusan pemilihan teknik tersebut bahkan diberikan kepada (pikiran bawah sadar) klien tanpa perlu menjelaskan mengenai berbagai teknik tersebut secara teknis dan detail.
Saya pernah punya pengalaman yang menarik dalam menangani seorang klien ibu muda yang memiliki masalah fobia sosial yang cukup ekstrim. Pada saat melakukan sesi terapi dengannya, ibu tersebut langsung memulai dengan menceritakan bahwa dia sudah melakukan beberapa sesi terapi dengan beberapa hipnoterapis berbeda sebelumnya dan merasa capek melakukan age regression terus. Ia bahkan secara khusus, dengan sedikit memperlihatkan ekspresi keberatan, menanyakan apakah bisa dilakukan terapi yang lain yang tidak perlu “dibawa mundur ke masa lampau” lagi karena terasa sangat melelahkan dan, dalam kasus ini, belum menghasilkan hasil yang efektif juga. Saya bisa memahami kisahnya karena memang pada umumnya masalah yang dimilikinya tersebut lebih cocok dilakukan terapi Age Regression untuk mencari peristiwa yang menjadi akar masalahnya. Saya juga bisa mengerti keberatan yang diajukannya karena sesiAge Regression yang intens memang pada umumnya bisa terasa cukup melelahkan bagi klien apalagi dilakukan berkali-kali. Dengan teknik New CCT tersebut dalam waktu singkat ibu tersebut bisa saya bantu dengan melakukan terapi sesuai dengan teknik yang lebih nyaman dan sesuai dengan pilihan pikiran bawah sadarnya sendiri dengan hasil yang lebih baik daripada terapi-terapi yang sudah pernah dilakukannya sebelumnya. Luar biasa!
Teknik ini juga saya ajarkan dalam Pelatihan & Sertifikasi Hipnoterapi yang saya adakan untuk membantu terapis-terapis baru yang saya latih tersebut untuk bisa melakukan teknik yang luar biasa ini tanpa harus terpaku dengan suatu manual book atau pendekatan text book lagi terhadap suatu jenis masalah.

 

Author: 

Related Posts

 

Leave a Reply